anak lebih terbuka

Cara Mendidik Anak Supaya Bisa Menjadi Pribadi Yang Terbuka

Setiap orang tua berharap jika anaknya bisa lebih ceria, dan sukses di masa mendatang. Kesuksesan bisa diraih salah satunya apabila pintar belajar bahasa Inggris. Sayangnya, ketidakmampuan anak dalam mengatasi masalahnya membuatnya menjadi begitu murung. Parahnya, anak enggan menceritakannya pada orang tuanya.

Sikap terbuka akan sangat penting untuk pertumbuhannya. Sikap ini lebih condong pada sifat jujur. Sifat ini perlu ditanamkan di dalam dirinya sejak kecil. Tujuannya agar anak bisa terbiasa mengungkapkan keinginannya, atau menceritakan masalahnya pada Anda.
Bagaimana cara menanamkan sifat terbuka dalam diri anak? Mari simak caranya di bawah ini!

"Alfatih dan Ashkar seneng banget bisa nikmati Belajar Inggris yang Fun di EF" ~ Iva. "Setiap Sabtu menjelang siang, Kyna selalu menunggu kelasnya mulai" ~ Acha. Buruan dapetin ▶ 💰 DISKONBelajar Inggris di EF English First. Belajar semakin menyenangkan! 🇬🇧 🇮🇩 🇸🇪

Jangan Biasakan Memaksa Bila Anak Ingin Diam

Kenyataannya, semakin anak dewasa, maka anak semakin tertutup. Bahkan kesannya menjauh dari orang tuanya. Kondisi ini memaksanya untuk berfikir sendiri. Ketika tidak mampu melakukannya, anak akan mengalami depresi. Sebagai akibatnya, anak akan mengalihkannya ke hal-hal yang negatif.

Supaya anak tidak sungkan membicarakan sesuatu yang dialaminya, biasakan anak senyaman mungkin bila berkomunikasi dengan Anda. Jangan biasakan untuk memaksa anak untuk mengatakan sesuatu.
Ketika anak merasa nyaman berkomunikasi dengan Anda, anak akan menceritakannya tanpa harus dipaksa terlebih dahulu. Baik itu menceritakan hal yang menyenangkan, sampai menceritkan keluh kesahnya.

Bersabarlah Sampai Anak Mau Berbicara Jujur

Pendiamnya anak bukan berarti jika dirinya akan memendamnya selamanya. Anak butuh waktu supaya bisa terbuka. Jika waktunya dirasa pas, anak akan berbicara dengan sendirinya. Kadang karakter anak memang demikian. Dan banyak anak mengalaminya. Anak-anak sudah pandai untuk memendam sesuatu. Tapi suatu saat, hal tersebut akan muncul ke permukaan.

Di sini, Anda perlu menunggunya. Tentunya sembari menciptakan komunikasi yang baik dengannya. Misalnya bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan. Tujuannya adalah supaya anak percaya dengan Anda.

Hindari Melemparkan Kritik Padanya

Menasehati berbeda dengan mengkritik. Menasehati lebih mengedepankan bagaimana melakukan sesuatu dengan baik. Sementara mengkritik lebih pada menyalahkan tanpa memberikan solusi.
Biasanya kritikan ini dilakukan bila anak mendapati sesuatu yang tidak menyenangkan akibat prilakunya. Bila melakukan kesalahan, jangan pernah memberikan kritikan secara terbuka pada anak.
Hati anak akan terluka. Ini membuatnya tidak pernah mau menunjukkan keluh kesahnya. Bahkan, anak lebih mempercayakan keluh kesahnya pada orang lain.

Dan perlu diketahui jika orang lain belum tentu memberikan nasehat yang baik. Bisa jadi, anak Anda terjatuh dengan hal yang negatif. Menyadari akan hal ini, biasakan untuk tidak menyinggung perasaannya. Contohnya adalah meminimalkan kritikan padanya.
Akan lebih baik jika Anda hanya memberikan nasehat seperlunya saja. Nasehat ini akan lebih memotivasi anak. Alhasil, anak berani terbuka dan mencari solusi atas masalahnya dengan Anda.
Masukilah Dunianya Anak

Memasuki dunia anak ini lebih bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi anak. Anda bisa menjadi teman terbaiknya di setiap peristiwa yang dilakukannya. Ikutilah apa yang biasa anak lakukan. Contohnya adalah bermain.

Dengan melibatkan diri Anda ke dalam dunianya, anak berani terbuka dalam semua hal. Bahkan anak mau menceritakan apapun yang dialaminya saat bermain dengan rekannya. Karena Anda adalah teman yang memberikannya kebahagiaan.

Ajukan Pertanyaan Yang Lebih Spesifik

Sebagai orang tua, sebaiknya selalu jaga aktifitas anak. Tanyakan apa yang biasa dilakukannya di tiap harinya. Dengan menanyakan hal tersebut, Anda tahu persis mengenai keadaanya.

Perlu diingat, ajukanlah pertanyaannya lebih spesifik. Misalnya bila pulang sekolah, tanyakan apa yang dilakukan saat istirahat. Pertanyaan ini mengundang anak untuk menjawab seluruh kegiatannya.
Jika sudah mulai menjawab, tanyakan cukup detail tentang aktifitasnya. Dengan begitu, anak akan menceritakan secara terbuka. Baik itu hal yang menyenangkan ataupun hal yang membuatnya menangis.

Hindari Memberi Saran Terlalu Cepat

Pengalaman Anda memang sudah memberitahu segalanya. Namun bagi anak, itu mungkin pengalaman baru baginya. Saat anak menceritakan suatu kegiatannya, tahan diri untuk berkomentar. Jadilah pendengar yang baik sampai anak menuntaskan ceritanya. Meskipun kenyataannya anak sedang berkeluh kesah.

Ciptakan suasana seperti ini agar anak mau menumpahkan semua perasaannya terhadap Anda. Bukan menutup rapat perasaannya lantaran Anda memotong ceritanya.
Jika Anda memotong perbincangan dan langsung memberikan komentar ataupun saran, anak akan menganggap jika percuma mengatakan pada Anda. Toh kenyataannya, Anda hanya akan memarahinya atau menasehati secara langsung.

Dengan cepatnya memberikan saran, nampak ada jarak antara Anda dan anak. Dan anak biasanya memiliki kecenderungan untuk menutup diri. Kalaupun mau berterus terang, anak-anak akan memilih patner lain. Contohnya adalah teman-temannya. Jika anak memilih orang lain, sudah pasti Anda tidak akan mengetahui apa yang dirasakan oleh anak. Anda hanya melihat fisik anak saja, tetapi tidak melihat kebahagiaan yang terpancar dari dirinya.

Intinya, selalu jaga komunikasi dengan anak di tiap harinya. Bila komunikasi terjalin dengan baik, Anda bisa melihat keterbukaan anak dalam setiap hal. Itulah kuncinya mendidik anak supaya memiliki sifat terbuka pada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *